Category Archives: renungan

Konfrontasi


Amsal 15:31-32
Orang yang mengarahkan telinga kepada teguran yang membawa kepada kehidupan akan tinggal di tengah-tengah orang bijak. Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi.

Dalam berhubungan dengan sesama, kita sering kali tidak dapat luput dari konfrontasi. Konfrontasi atau menegur memang sulit dilakukan, sebab mengandung bahaya “kehilangan” hubungan tersebut. Oleh sebab itu, banyak orang lebih suka menghindari konfrontasi daripada melakukannya.

Bagaimana kita dapat memberikan teguran sehingga membangun dan menumbuhkan orang yang kita tegur? Kita perlu belajar untuk menyatakan perasan hati kita, bukan kemarahan kita. Teguran yang disampaikan dengan memaki-maki, menyerang dan menjatuhkan biasanya tidak akan efektif bagi kedua belah pihak. Orang yang dimaki-maki atau diserang tidak mungkin mau mendengar, apalagi berubah oleh teguran itu. Akibatnya besar kemungkinan hubungan itu menjadi terputus. Continue reading

Advertisements

Leave a comment

Filed under artikel, renungan, Renungan Kristen, Renungan Persahabatan

Sikap Egois


Lukas 6:31
“Dan Sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.

Di sebuah seminar wiraniaga, seorang pendeta mengeluhkan usahanya yang selalu gagal. Ia mengaku pusing dengan keadaan tersebut dan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Selepas sang pendeta mengeluarkan unek-uneknya, pembicara seminar itu pun akhirnya memberikan tanggapan. Namun, kali ini ia merespon dengan cara yang tidak biasa, yaitu dengan menceritakan mengenai hobinya: Continue reading

Leave a comment

Filed under artikel, renungan, Renungan Kristen

Piano


Kisah ini terjadi di Rusia. Seorang ayah yang memiliki putra yang berusia kurang lebih 5 tahun, memasukkan  putranya tersebut ke sekolah musik untuk belajar piano. Ia rindu melihat anaknya kelak menjadi seorang pianis yang terkenal.

Selang beberapa waktu kemudian, di kota tersebut datang seorang pianis yang sangat terkenal. Karena ketenarannya, dalam waktu singkat tiket konser telah terjual habis. Sang ayah membeli 2 buah tiket pertunjukan, untuk dirinya dan anaknya.

Pada hari  pertunjukan, satu jam sebelum konser dimulai, kursi telah terisi penuh. Sang ayah duduk dan putranya tepat berada di sampingnya. Seperti layaknya seorang anak kecil, anak ini pun tidak betah duduk diam terlalu lama, tanpa sepengetahuan ayahnya, ia menyelinap pergi. Continue reading

Leave a comment

Filed under artikel, renungan, Renungan Kristen

BUNGKUS PALSU


Jessica  adalah anggota baru di sanggar tari. Wanita mungil itu
selalu terlihat lincah dan riang. Gayanya luwes. Senyumnya ramah.. Tidak banyak yang mengetahui usianya sudah berkepala tiga. Sepintas gayanya lebih mirip mahasiswi daripada seorang Ibu beranak satu.

Minggu lalu Jessica terlambat. Dia tidak ingin kejadian itu terulang lagi. Setelah sepeda motor bututnya diparkirkan, dengan langkah tergesa-gesa Jessica langsung menuju meja resepsionis. Masih seperti biasa, senyum lebar selalu menyungging di bibirnya. Lalu dia menyodorkan kartu keanggotaan untuk diabsensi.

Jessica baru menyadari air botol minum di kantong samping ranselnya kosong. Ternyata dia lupa mengisi ulang botol minumnya karena tergesa-gesa. Jessica mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Mencari air dispenser. Dalam benaknya, disanggar tari sebesar itu pasti ada air dispenser yang disediakan untuk para member. Dengan rasa sungkan dan ragu, Jessica bertanya kepada resepsionis apakah ia boleh meminta botol air minumnya diisi kembali. “Oh, boleh” jawab resepsionis.

Dipanggillah seorang pelayan dapurn “Maaf, mbak. Saya lupa mengisi air minum, boleh tolong diisikan ?” tanya Jessica.
Jessica lalu memberikan botol minum berukuran 500 cc itu kepada pelayan dapur. Pelayan dapur agak ragu menerima botol minum tersebut. Dengan gelisah ia masih berdiri di sana, seakan-akan menunggu persetujuan dari seseorang. Jessica sedikit heran. Keengganan itu terlihat begitu jelas.

Continue reading

Leave a comment

Filed under artikel, renungan, Renungan Kristen, Tips

“BEJANA DARI TANAH LIAT”


Yeremia 18:1-23 Di dalam Kitab Yeremia ini ditulis mengenai penjunan atau tukang periuk yang sedang membuat periuk atau bejana dari tanah liat. Hal ini menggambarkan Tuhan sebagai penjunan yang akan membentuk hidup kita yang berasal dari tanah liat ini menjadi bejana yang berguna di dalam tanganNya.
II Kor 4:7 “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, buka , dari diri kami. ”

Kita adalah bejana dari tanah liat. Di dalam membentuk atau menangani kita Tuhan tidak pernah menyerah. Pada saat dilihatNya hidup kita tidak tepat Ia selalu membentuknya menjadi sesuatu yang lain supaya dipakaiNya. Kita adalah bejana dari tanah liat dengan potensi tanpa batas.
Pada saat kita meleset Sang Penjunan akan memungut kita kembali dan membentuk seluruhnya lagi. Di dalam alam semesta ini ada bulan, bintang-bintang dan ada bumi. Bulan dan bintang-bintang itu indah di dalam pemandangan mata. Tetapi Tuhan mengambil tanah liat dari bumi untuk membentuk manusia. Lalu ke dalam bejana dari tanah liat itu Dia hembuskan nafasNya yang menghidupkan sehingga memiliki nyawa, memiliki jiwa dan roh.
Tuhan menaruhkan kekayaan dari kemuliaanNya. Continue reading

Leave a comment

Filed under renungan, Renungan Kristen

MENETAPKAN PRIORITAS YANG TEPAT


“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Mazmur 90:12

Apakah yang dimaksud dengan “menghitung hari-hari”? Ijinkan saya menambahkan satu pertanyaan yang lain: Hal apakah dalam kehidupan anda yang anda rasa paling sulit untuk dikelola – bahkan anda sampai seringkali kekurangan hal itu? Banyak orang mungkin cenderung menjawab:Uang.

Tetapi menurut pengalaman saya ada hal lain yang jauh lebih sulit untuk diatur, dan saya lebih sering kekurangan hal tersebut daripada hal-hal yang lain. Itulah waktu! Bagi saya, waktu adalah unsur kehidupan yang paling sulit dikelola secara tepat. Oleh karena itu, cara kita memakai waktu merupakan ujian terberat dari disiplin pribadi dan kesungguhan komitmen Kristiani kita.

Sebab itu dengan sepenuh hati saya mengaminkan doa pemazmur ini: Ajarlah aku menghitung hari-hariku dengan baik. Dalam prakteknya hal ini berarti: Ajarlah aku menetapkan prioritasku dengan tepat. Ajarlah aku memberikan cukup waktu bagi perkara-perkara yang lebih penting. Hanya dengan cara demikianlah saya akan beroleh “hati yang bijaksana.”

Pada akhirnya, prioritas waktu yang kita tetapkan menunjukkan nilai-nilai yang mendasari kehidupan kita. Hal-hal yang kita beri prioritas rendah dengan sendirinya akan terhapus karena berada di baris yang paling bawah dalam daftar kita. Jika kita tidak memberikan prioritas yang tinggi kepada hal-hal yang benar-benar penting – seperti doa dan pembacaan Alkitab- seluruh kehidupan kita akan menjadi kacau. Lalu kita akan tergoda untuk selalu memberi dalih: “Saya tidak mempunyai cukup waktu.” Padahal sebenarnya kita harus mengatakan: “Saya tidak memakai waktu saya dengan benar.”

Sebelum terlambat, marilah berdoa bersama saya: “Ajar kami untuk menghitung hari-hari kami dengan benar.”

Leave a comment

Filed under artikel, renungan

Orang Sombong dan Deodoran


Penyakit sombong itu seperti bau badan.

Orang yang punya bau badan (BB) seringkali tidak sadar kalau dirinya punya BB. Dia bisa tenang-tenang saja, sementara orang-orang di sekitarnya kena baunya. Tentunya sangat tidak enak dekat orang BB. Tapi kita ‘kan tidak mungkin berhenti bernapas. Continue reading

Leave a comment

Filed under artikel, renungan, Renungan Kristen